paserpena.com, Paser – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan (DPMPD) Provinsi Kaltim melakukan verifikasi lapangan ke Desa Pepara Kecamatan Tanah Grogot dan Desa Petangis Kecamatan Batu Engau di Kabupaten Paser pada Rabu (3/7/2024).
Upaya itu dalam rangka penilaian produk unggulan di dua desa tersebut.
Ketua Tim Penilai Abdul Rivai mengatakan Bahia dua produk unggulan yang dinilai yakni briket arang dari tempurung kelapa di Desa Pepara dan batik ecoprint Desa Petangis.
Keduanya masuk dalam 10 produk unggulan terbaik dari 841 desa di Kalimantan Timur.
“Verifikasi lapangan untuk mendapatkan keabsahan data dan fakta di lapangan mengenai penilaian produk unggulan desa,” ungkap Rivai, mengutip RRI.
Ia membeberkan, verifikasi ini dilakukan dengan mencocokan dokumen yang telah disampaikan dengan fakta di lapangan.
“Ini sangat penting bagi kami untuk melihat langsung apa yang dilakukan langsung oleh masyarakat di desa,” terangnya.
Sementara itu, Zidan menambahkan produknya berasal dari kelapa padat yang terbuat dari 100% arang tempurung kelapa. Produk ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pengganti gas.
“Bisa untuk memasak bakar-bakaran, barbeku, dan lain-lain,” jelas inovator briket arang Pepara ini.
Terpisah Sekretaris Desa Petangis, Zulfian Pratama, selaku pembina menjelaskan bahwa batik ecoprint tersebut dikerjakan kelompok wanita tani (KWT) setempat.
Dia mengaku, produk binaannya itu berbahan alami yang dipadukan dengan kain.
“Ada beberapa proses yang kami lakukan sehingga yang awalnya jadi kain putih menjadi kain yang bernuansa cantik dan alami,” jelas Zulfian.
Produk Ecoprint ini, ungkapnya, dari kain biasa yang dibuat menjadi baju, tas, sendal, sepatu dan topi.
Sedangkan Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Paser, Kasrani Lathief, mengemukakan bahwa ditetapkannya dua produk unggulan dari Paser merupakan sebuah prestasi.
“Karena di saat yang bersamaan pada tahun ini desa dan kelurahan dari Paser juga juara dalam lomba desa se-Kaltim,” ujarnya.
Kasrani berharap capaian ini menjadi motivasi bagi desa lainnya untuk berinovasi memunculkan karya-karya inovatif, melahirkan para inovator baru yang mampu menggerakkan perkonomian di tingkat desa.


